Kenaikan harga BBM yang melambung mau tidak mau memang berimbas pada harga bahan bangunan yang berujung pada mahalnya biaya membangun rumah. Bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah idaman, tentu hal ini sangat memberatkan. Segala kemungkinan dicoba untuk dapat membangun rumah sesuai dengan keinginan tanpa menganggu anggaran. Salah satu trik yang didengung-dengungkan untuk berhemat adalah mendesain dan membangun sendiri. Tapi, bagi masyarakat yang awam di bidang tersebut, apakah trik ini nyata untuk diterapkan? Apakah memiliki rumah idaman dengan anggaran yang terencana dan pasti dapat tercapai? Apakah rumah idaman tersebut hanyalah kembali menjadi istilah rumah yang hanya diidam-idamkan tanpa dapat tercapai?

Sepintas, mendesain dan membangun sendiri memang menghilangkan komponen nilai yang harus dikeluarkan yaitu biaya jasa arsitek dan jasa kontraktor/ pemborong. Umumnya, kedua biaya ini berkisar dari 10% – 15% dari rencana anggaran biaya (RAB) membangun rumah. Memang lumayan penghematannya. Tetapi, kalau tidak hati-hati dan cermat, trik ini justru akan menjadi bumerang karena sang pemilik rumah tidak dapat mengontrol harga pekerjaan di lapangan. Untuk itu, langkah awal yang perlu diambil adalah merubah pola pikir dan membuat perencanaan yang matang.

Perencanaan yang Matang

Pola pikir yang dirubah adalah sang pemilik rumah harus merubah pola pikirnya dari pemilik rumah menjadi seorang perancang. Kenapa demikian? Karena ada perbedaan mendasar dari dua posisi ini. Pemilik rumah cenderung untuk mendahulukan keinginannya dibanding kebutuhannya tanpa secara matematis dapat menghitung konsekuensi logis (tingkat kesulitan dan biaya) dari keinginannya tersebut. Sedangkan perancang, bertugas menjaga agar kebutuhan ruang dari kegiatanlah yang diprioritaskan dan menjaga agar konsekuensi biaya yang diakibatkan perencanaan dapat seefisien mungkin. Dengan bersikap sebagai perancang, maka pemilik rumah harus cermat memilah-milah kebutuhan dan selera yang harus diprioritaskan, karena tidak semua kegiatan dapat diwadahi apabila ada pembatasan kemampuan anggaran.

Selanjutnya adalah perancangan yang tepat. Memang, sebagai orang yang tidak terdidik formal untuk merancang bangunan, hal ini dirasa sulit. Ada cara yang lebih mudah sebagai titik awal merencana, yaitu dengan melihat contoh-contoh denah dari buku-buku atau brosur. Carilah denah yang paling mendekati dengan kebutuhan kita. Sekali lagi, kebutuhanlah yang dikedepankan. Dari situlah ide selanjutnya dapat dikembangkan, tanpa menjiplak mentah-mentah denah yang dijadikan referensi karena tidak semua denah cocok diterapkan di tapak (lokasi) kita.

Perencanaan yang baik adalah menggunakan sistem modul. Modul adalah sistem standar ukuran yang dapat digunakan berulang-ulang. Berdasarkan pengalaman, untuk rumah berukuran sedang (< 150 m2) modul yang paling ideal adalah 3 m x 3 m. Dengan modul ini, berarti konfigurasi ruang adalah kelipatan dari struktur 3 m x 3 m. Kamar tidur utama lengkap dengan kamar mandi dan ruang baju dapat berukuran 3 m x 6 m. Kamar anak cukup 3 m x 3 m. Ruang keluarga cukup dengan lebar 3 m. Dengan lebar 3 meter, maka dengan televisi 21 inchi, sudah dicapai jarak pandang ideal. Kamar mandi anak dapat berukuran 3 m x 1,5 m. Ruang makan untuk 4 orang dapat berukuran 3 m x 3m, dan seterusnya.

Dengan modul yang seragam, maka sistem struktur rangka yang dipakai juga tidak berdimensi besar. Kolom dan balok yang dibutuhkan dapat seragam ukurannya yang berakibat pada penghematan kebutuhan besi beton dan betonnya sendiri. Dengan membuat ruangan sesuai dengan modul, maka penggunaan kolom praktis sebagai pengikat pertemuan dinding dapat dikurangi karena sekaligus ditopang fungsinya oleh kolom struktur.

Untuk bangunan dengan dua lantai, maka modul tersebut harus berulang di lantai atas. Modul vertical (jarak antar lantai) yang digunakan dapat berjarak 3 m atau 3,6 meter. Satu hal yang acap dilupakan oleh pemilik rumah karena keinginan untuk mendapatkan ketinggian langit-langit (plafon) yang maksimal – dengan alasan agar udara lebih dingin – maka ditinggikanlah jarak antar lantai tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi harus dipahami bahwa ruang-ruang yang membutuhkan ketinggian plafon yang tinggi sebenarnya hanyalah ruang-ruang komunal seperti ruang keluarga. Untuk ruang tidur sebenarnya tidak terlalu perlu plafon yang tinggi. Apalagi dapur dan kamar mandi. Selain itu beberapa konsekuensi logis yang harus diterima akibat peninggian jarak antar lantai antara lain adalah :

(1)   meningkatnya kebutuhan material dinding dan pengikutnya (plesteran, acian dan cat) untuk semua dinding sekeliling dan dalam rumah

(2)   ruang tangga yang semakin luas karena semakin tinggi jarak antar lantai maka semakin banyak jumlah anak tangga dan semakin banyak beton yang dipakai untuk tangga

(3)   tingginya plafon berakibat pada kebutuhan daya penerangan buatan yang lebih banyak. Untuk kamar tidur, berarti kapasitas AC juga harus lebih tinggi.

Perencanaan kamar mandi dan area basah dilantai atas juga perlu diperhatikan. Rencanakanlah ruang-ruang basah tersebut tepat diatas kamar mandi atau ruang basah di bawahnya. Tindakan ini mengakibatkan penghematan dalam pipa-pia plumbing baik air bersih dan air kotor sekaligus mempermudah perawatannya. Hanya saja perlu diperhatikan sebaiknya tidak merencanakan kamar mandi diatas dapur atau ruang makan, karena kurang baik dari sisi etika dan kenyamanan.

Tampilan Bangunan dan Material

Sebagai kawasan tropis, tampilan bangunan yang “aman” untuk segala cuaca adalah rumah dengan atap genteng, dengan teritisan yang lebar. Teritisan yang cukup lebar mampu mengurangi tempiasan air hujan sehingga bangunan akan lebih awet. Untuk itu, bentuk dasar atap perlu dipilih yang cocok. Bentuk atap pelana lebih cocok untuk penghematan material. Karena dengan bentuk ini, maka dinding dapat berfungsi sebagai kuda-kuda. Dengan bentuk atap pelana terlebih pelana tunggal tanpa jurai, maka biaya rangka atap makin murah. Karena biaya pemasangan rangka atap tergantung dari banyaknya jurai atap baik talang jurai maupun jurai luar.

Rumah beratap bentuk pelana berarti menghemat rangka atap yang dipakai.

Rumah beratap bentuk pelana berarti menghemat rangka atap yang dipakai.

Dengan atap pelana, maka rangka atap lebih sederhana sehingga biayanya semakin murah. Usahakan tidak menggunakan bahan kayu untuk rangka atap. Selain menjaga kelangsungan hutan, kualitas kayu saat ini kurang baik dibanding dulu dan tidak sebanding dengan harganya yang semakin mahal. Saat ini banyak rangka atap berbahan baja ringan yang terjangkau harganya. Pilihlah aplikator yang bertanggung jawab terhadap perhitungan struktur dan pemasangannya serta dapat menerangkan perbedaan bentuk profil rangka serta sistem sambungannya.

Keuntungan lain bentuk atap pelana yaitu dihasilkannya ruang bawah atap (loteng) yang cukup lega untuk menjadi ruang baru, misalnya untuk gudang. Beritahukan aplikator rangka atap bahwa ada rencana untuk menggunakan loteng tersebut sebagai ruangan. Dengan demikian, mereka dapat mendesain aplikasi produknya mengikuti keinginan tersebut sehingga ruang tersebut bebas rangka atap yang bersilangan.

Saat ini, perbandingan biaya membangun antara biaya upah dan material sudah bergeser dari 20 : 80 dalam beberapa tahun yang lalu menjadi sekitar 30 : 70. Ini berarti bahwa sedikit mungkin waktu yang dihabiskan untuk membuat sesuatu, maka harga bangunan dapat lebih murah. Mensiasatinya adalah dengan menggunakan material yang siap pakai. Lebih banyak material fabrikasi, maka makin dapat ditekan biaya pembangunan tersebut. Sebagai contoh, penggunaan conblock sebagai carport akan jauh lebih murah dibanding dengan pembuatan koral sikat dan batu alam. Yang perlu diingat adalah penggunaan material fabrikasi ini harus sudah direncanakan terlebih dahulu dalam desain awalnya.

Sistem pelaksanaan pembangunan perlu dipilih yang mendukung penghematan. Upayakan untuk memborongkan upah pembangunannya kepada pemborong yang sudah terbukti kredibilitasnya. Dengan memborongkan upah pembangunan, maka satu masalah komponen biaya yaitu upah pembangunan sudah terselesaikan. Sehingga kita dapat memprediksi biaya yang akan dikeluarkan dan dalam jangka waktu yang tertentu. Karena dengan memborongkan upah, maka pemborong akan tertantang untuk menyelesaikan pembangunan rumah tepat waktu. Tuangkan perjanjian pemborongan dalam kontrak sederhana kalau perlu dengan menyertakan sanksi-sanksi akibat keterlambatan, ketidaksesuaian dengan bestek, dsb. Yang perlu diperhatikan dalam memborongkan upah adalah sebaiknya gambar kerja sudah lengkap sehingga penawaran harga lebih akurat dan pengawasan di lapangan lebih mudah.

Penggunaan material fabrikasi, seperti rooster siap pakai, kusen alumunium dan kawat ayam sebagi pagar dapat menghemat anggaran membangun.

Penggunaan material fabrikasi, seperti rooster siap pakai, kusen alumunium dan kawat ayam sebagi pagar dapat menghemat anggaran membangun.

Material finishing juga perlu dipilih yang mendukung penghematan. Umumnya, material finishing menghabiskan anggaran hampir 50% dari keseluruhan biaya material. Banyak sekali pilihan material fabrikasi yang cukup baik saat ini. Produk-produk dari RRC dapat saja dipakai seperti pada saniter dan fitting-fitting plumbing. Seleksi produk tetap diperlukan khususnya soal layanan purna jualnya. Untuk finishing dengan tangan, cobalah berkreasi dengan material unfinished untuk tempat-tempat tertentu. Dinding-dinding dapat dibiarkan polos hanya plesteran dan acian tanpa cat jika perlu. Penempatan yang strategis malah akan menambah nilai estetika rumah tersebut. Bahkan jika perlu, rencanakan dinding-dinding dengan bata ekspose polos sebagai aksen. Hanya saja pilihlah posisi-posisi yang tidak rentan akan bahaya rembesan air dan terpaan air hujan.

Bantuan Tenaga Ahli tetap Perlu

Untuk orang yang awam, mendesain dan membangun sendiri sebenarnya tetap memerlukan bantuan tenaga berpengalaman di bidang tersebut. Untuk dapat menuangkan ide-ide menjadi suatu dokumen gambar kerja yang representatif, bantuan juru gambar tetap diperlukan. Hanya saja, mungkin tidak perlu sampai menggunakan jasa arsitek professional yang berpengalaman. Mahasiswa arsitektur tingkat akhir dirasa cukup untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Selain sebagai pemeriksa kaidah-kaidah struktur tugasnya juga sebagai kritikus untuk estetika seperti komposisi, warna, dsb. Hitung-hitung sebagai tambahan pengalaman mereka sebelum terjun di dunia profesi.

Selanjutnya, tenaga ahli struktur juga diperlukan untuk merancang sistem struktur yang tepat dan efisien. Karena dengan penghitungan yang cermat, maka penghematan jadi lebih tinggi. Tenaga ahli struktur ini juga dapat ditugaskan untuk menghitung rencana anggaran biaya (RAB) bangunan, sehingga biaya yang diperlukan akan lebih rinci. Untuk itu, pemilihan tenaga ahli ini perlu sedikit selektif dengan pertimbangan tingkat akurasi yang tinggi.

Biaya-biaya tenaga-tenaga ahli ini, jika dibanding penghematan yang diakibatkan pemakaian hasil jasa mereka tentu tidak seberapa. Kira-kira total biaya penggunaan tenaga ahli diatas sekitar 2% saja dari nilai bangunan. Suatu nilai yang kecil dibanding manfaatnya.

Material unfinished juga dapat tampil menarik. Seperti pada dinding plesteran yang dibuat pola tertentu dan lantai semen bertekstur.

Material unfinished juga dapat tampil menarik. Seperti pada dinding plesteran yang dibuat pola tertentu dan lantai semen bertekstur.

Komitmen Waktu

Yang terakhir yang perlu diperhatikan dalam mendesain dan membangun sendiri adalah komitmen waktu dalam mengawal prosesnya dan menjaga ritme kerja. Karena bertindak sebagai perancang, maka waktu luang harus direlakan untuk kegiatan tersebut tanpa dibayar. Karena sejatinya, menggunakan jasa arsitek dan kontraktor professional adalah sebagai kompensasi dari untuk tetap mempunyai waktu luang yang berkualitas, tanpa harus dipusingkan dengan masalah-masalah teknis yang tidak dikuasai.

Nah, sekarang pilihan tergantung Anda. Mau merancang dan membangun sendiri dengan konsekuensi tidak mempunyai waktu luang atau menyewa jasa arsitek professional untuk melayani Anda dalam mewujudkan rumah idaman dengan tetap mempunyai waktu luang yang berharga.

Semua tergantung Anda. Selamat membangun.

(Tulisan ini telah dimuat secara bersambung di Majalah IDEA edisi 62/VI/ 2009 dan edisi 63/VI/2009; Maret dan April 2009)

perdana-putra-dan-dataran-putra

Perdana Putra dan Dataran Putra

Terletak di antara Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Putrajaya menempati lahan bekas perkebunan kelapa sawit dan karet seluas sekitar 46 km2.

Lahan yang tadinya adalah milik negara bagian Selangor ini dibeli oleh pemerintah federal Malaysia untuk dijadikan lokasi baru dari mega proyek pemindahan kota pemerintahan negara Malaysia dari Kuala Lumpur ke lokasi yang baru.

Disebut mega proyek, memang dari mulai ide, konsep dan desain serta pelaksanaannya memang membutuhkan perhatian yang besar dan tentunya biaya yang besar pula. Soal visi untuk memajukan negaranya, Perdana Menteri Malaysia saat itu, Dr. Mahathir Mohammad memang revolusioner. Ide memindahkan pusat pemerintahan negara keluar dari Kuala Lumpur merebak pada akhir 1980-an seiring dengan mulai memadatnya kota Kuala Lumpur. Selain itu, visi ini juga untuk mempertahankan posisi sentral Kuala Lumpur sebagai kota bisnis dan keuangan utama dari Malaysia.

taman-dan-waterfront

Salah satu sudut taman dan waterfront di Putrajaya

Ide pemisahan kota pemerintahan negara dan kota bisnis utama sebenarnya bukan hal yang baru di dunia. Kota-kota besar di dunia sudah melakukan hal ini sejak dulu. Suatu ide yang efektif sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang politik negara. Jika terpisah, maka apabila terjadi gejolak politik di kota pemerintahan, maka imbasnya tidak akan langsung mengganggu kegiatan bisnis di kota bahkan negara tersebut.

Jakarta sendiri sebenarnya sempat mewacanakan hal ini, dengan rencana pemindahan kota pemerintahan ke Jonggol, Cileungsi Bogor. Sehingga Jakarta tetap sebagai kota bisnis. Ide yang bukan orisinil, karena dulu pemerintah Hindia Belanda juga sudah menelurkan rencana untuk menempatkan Bandung sebagai kota pemerintahan dan Batavia tetap sebagai kota perdagangan.

Putrajaya sendiri, muncul sebagai kota yang megah. Kritik bermunculan atas pembangunannya, karena dibangun dengan biaya yang sangat besar padahal saat itu negara sedang mengalami krisis ekonomi di tahun 1997. Desain kota, arsitektur bangunan serta lansekapnya merupakan suatu simbol kemajuan tertentu bagi bangsa Malaysia. Tapi disisi lain, arsitektur kota Putrajaya menjadi sasaran kritik para kritikus arsitektur dan budaya atas penampilannya yang berusaha mengejar nuansa Islami yang secara tidak resmi dianggap sebagai kebudayaan bangsa Malaysia.

putrajaya-boulevard-1

Boulevard Putrajaya menghadap ke selatan

Rencana induk Putrajaya merupakan rencana yang matang. Tema sebagai kota baru yang canggih tetapi ramah lingkungan diusung oleh perencana kota Putrajaya. Selain bangunan-bangunan dengan material terkini dan desain yang spektakuler, Putrajaya dirancang lengkap dengan danau buatan yang luas, area lahan basah (wetlands), pedestrian yang lebar dengan site furniture yang lengkap serta taman-taman yang didesain dengan baik. Aksis utama kota dan danau buatan yang diberi nama Danau Putrajaya adalah unsur utama dari rencana induk kota ini. Aksis utama membelah utara dan selatan dengan panjang lebih dari 4 km dan lebar 100 meter yang sangat cukup untuk melakukan parade militer saat Hari Kemerdekaan. Aksis ini membentuk boulevard yang megah dan diapit oleh deretan bangunan-bangunan kantor pemerintahan yang wujudnya pun berskala megah. Ujung utara Putrajaya Boulevard berdiri bangunan kantor perdana mentri Malaysia yang dikenal dengan Perdana Putra sedangkan di ujung selatan berdiri Putrajaya International Convention Center (PICC).

Di depan bangunan Perdana Putra, di ujung Putrajaya Boulevard terdapat city square yang disebut Dataran Putra dimana berfungsi sebagai alun-alun utama kota Putrajaya. Di sebelah baratnya dibangun mesjid resmi Putrajaya dengan nama Mesjid Putra. Terdapat juga food court, pusat perbelanjaan kecil (Souq Putrajaya) yang menempel di bagian bawah bangunan mesjid yang menghadap ke danau dengan desain waterfront yang menarik. Perencanaan tapak seperti ini memang mirip dengan perencanaan tapak kawasan pemerintahan tradisional di Jawa yaitu keraton, mesjid raya dan pasar utama yang dibangun menghadap ke alun-alun. Keraton dapat diasosiasikan dengan kantor perdana mentri, mesjid raya dengan Mesjid Putra, pasar utama dengan Souq Putrajaya dan Dataran Putra sebagai alun-alunnya. Tidak jelas apakah kemiripan tata letak ini adalah sesuatu yang memang direncanakan dengan konsep serupa hanya atau kebetulan saja.

Jarak yang terpisah 4 km antara Perdana Putra dan PICC tetapi tetap ada kebutuhan saling berhadapan secara visual membuat dua bangunan utama ini menjadi tampil dengan skala megah. Bahkan bangunan Perdana Putra sudah memposisikan diri lebih tinggi dibanding bangunan lain di komplek utama Putrajaya dengan dibangun lebih tinggi diatas tanah yang ditinggikan sehingga seperti berdiri diatas bukit.

iwan-masjid-putra

Gerbang Iwan Mesjid Putra. Terlihat skalanya yang agung

Perdana Putra dibangun dengan gaya yang bisa dibilang eklektik. Bangunan muncul dengan komposisi simetris, dengan pilar-pilar kolom yang ditegaskan bentukannya. Keinginan untuk tampil megah dan berwibawa serta formal memang didapat dari penampilan seperti ini. Terdapatnya perpaduan 2 macam atap yaitu atap kubah bawang dan atap limasan seolah ingin menunjukkan perpaduan budaya Melayu dengan budaya Islam yang diwakili oleh keberadaan kubah tersebut.

Mesjid Putra merupakan salah satu bangunan sentral di Putrajaya selain Perdana Putra. Skalanya yang agung membuatnya makin menjadi point of interest dari kota Putrajaya itu sendiri. Alhasil, Mesjid Putra menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung kota. Mesjid Putra dibangun dengan menggunakan material finishing granit warna merah muda. Warna yang cukup mencolok jika kita memandang skyline utara Putrajaya.

Gaya arsitekturnya mencoba mengadopsi bangunan peradaban Islam di Asia Tengah pada abad ke 14-15 ini, dengan munculnya kubah utama di atas bangunan masif dan dikelilingi oleh kubah-kubah kecil lainnya. Perbedaan yang mencolok adalah penggunaan kubah tidak mengambil kubah bawang sebagaimana kubah di Perdana Putra. Mesjid Putra juga mempunyai gerbang iwan yang besar dan tinggi. Skalanya yang agung membuat masjid tampil lebih megah jika dilihat dari dekat.

Bangunan-bangunan yang mengapit boulevard Putrajaya dibangun dengan gaya yang diupayakan sebagai bangunan dengan pengaruh Islami. Simbol-simbol fisik dari bangunan-bangunan asal peradaban Islam di Timur Tengah secara bulat-bulat dicoba diterapkan di bangunan-bangunan penting. Walau dari sudut teknologi bangunan dan material mempunyai nilai tersendiri, tetapi secara esensi keislaman menjadi perdebatan tersendiri. Contohnya adalah bangunan mahkamah agung (Palace of Justice) nya. Bangunan ini mengambil gaya arsitektur Moor lengkap dengan busur dan kolom kembarnya. Karena merupakan pindahan dari Bangunan Sultan Abdul Samad di depan Dataran Merdeka Kuala Lumpur yang bergaya Moorish, maka Palace of Justice di Putrajaya kembali menggunakan gaya tersebut hanya dengan skala yang lebih agung. Munculnya kembali kubah bawang seakan-akan seperti justifikasi Malaysia akan pengaruh Islam dalam budaya mereka. Beberapa pendapat menyatakan bahwa Taj Mahal di India juga menjadi sumber inspirasi desain bangunan ini.

perbadanan-government-complex

Perbadanan Govenment Complex. Terdapat gerbang Iwan dari material baja yang seakan dianyam

Di seberang Palace of Justice terdapat komplek perkantoran pemerintah yang dikenal dengan Perbadanan Government Complex. Bangunan ini bisa disebut sebagai interpretasi kontemporer dari arsitektur islami. Komponen utama dari bangunan ini adalah gerbang besar atau iwan yang biasa muncul di gerbang-gerbang masuk mesjid yang besar di timur tengah. Iwan disini dimunculkan dengan struktur baja dengan pola anyaman dari lembaran-lembaran baja seperti tenunan kain songket khas Melayu. Berbeda dengan bangunan-bangunan lainnya yang mengambil tema Timur Tengah dan berwujud masif, bangunan Perbadanan Government Complex tampil sangat kontemporer dengan material kaca dan baja. Yang khas dari bangunan selain gerbangnya adalah tampilan secondary skin-nya yaitu kaca yang membungkus struktur utama bangunan. Apabila disiang hari bangunan akan terlihat reflektif dengan kaca yang memantulkan lingkungan sekitar, tetapi jika malam hari kaca-kaca tersebut seakan hilang karena pencahayaan dalam yang tembus keluar sehingga bangunan seperti mempunyai sosok yang baru.

facade-palace-of-justice

Facade Palace of Justice

Putrajaya memang tampil memesona. Tidak terlalu berlebihan jika Putrajaya disebut sebagai laboratorium arsitektur kontemporer dari Malaysia. Rekayasa baru banyak dilakukan disini untuk mencapai keinginan tampil dalam arsitektur yang baik. Jembatan-jembatan dengan desain jembatan terkenal di dunia – dari jembatan masif adopsi dari jembatan di Isfahan abad ke-14 hingga jembatan kabel futuristik a la Eropa – muncul disini diluar masalah konteks atau tidaknya dengan penampilan kota. Danau dibuat setelah jembatan selesai, dan danau ini mempunyai sistem filterisasi organik dengan penggunaan lahan basah pada inletnya. Suatu terobosan rekayasa yang mengedepankan isu ekologi.

Walau kontroversi dan kritik terus bermunculan saat pembangunannya hingga saat ini. Kritik paling mendasar selain masalah biaya adalah tampilan skala kota dan bangunannya. Putrajaya memang muncul tidak proporsional dengan jumlah penduduknya yang memang hanya diperuntukkan bagi pegawai pemerintah dan keluarganya serta pihak-pihak yang terkait. Sedangkan kota tampil dengan ukuran yang serba besar sedangkan penduduk hanya berkisar 60.000 orang saja. Bagaimana kota Putrajaya agar hidup sebagai kota pada umumnya memang terus digalakkan dengan membangun pusat-pusat kegiatan ekonomi sehingga kehidupan akan lebih hidup, walaupun berjalan lambat.

Selain itu, kritik juga muncul dari gaya-gaya arsitektur yang ditampilkan. Penggunaan gaya Timur Tengah dan Asia Tengah yang disebut-sebut sebagai hasil kebudayaan Islam lengkap dengan kubahnya yang dipadu dengan arsitektur vernakular Melayu menjadi tanda tanya besar apakah ini yang akan menjadi identitas arsitektur Malaysia kedepannya. Bangunan-bangunan di Putrajaya dinilai tidak responsif terhadap kondisi iklim tropis dengan curah hujan tinggi Malaysia.

Jadi pertanyaannya adalah; Putrajaya adalah identitas arsitektur Malaysia kontemporer atau hanyalah kota hasil dari imajinasi Dr. M (sapaan Mahathir Mohammad) akan identitas Malaysia?

(tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina, edisi anniversary – Januari /Februari 2009)

Pendahuluan

Konservasi dalam pengertiannya sebagai suatu proses memelihara suatu tempat atau bangunan dalam mempertahankan makna kebudayaannya menyangkut berbagai macam aspek, termasuk aspek ekonomi. Aspek ekonomi yang dimaksud bukan saja merupakan nilai kapital dan finansial yang dapat terukur pada saat ini, tetapi juga suatu nilai yang signifikan dalam kaitan keberadaan tempat atau bangunan tersebut dengan lingkungannya atau lebih jauh dengan keseluruhan kota.

Untuk suatu tempat yang dinilai mempunyai riwayat yang signifikan untuk dijadikan objek dari pemugaran hingga menuju ke proses konservasi, nilai ekonomi ternyata juga merupakan suatu nilai yang tidak terpisahkan sebagai  parameter dalam penelitian. Kawasan ekonomi dalam suatu kota baik yang berlangsung dari dulu atau baru dimulai pada saat ini, dan diyakini mempunyai nilai-nilai yang dapat dijadikan indikator sebagai objek pemugaran mutlak mengedepankan faktor ekonomi dan keberlanjutannya dalam mengambil tindakan terhadapnya. Contohnya kawasan pasar yang sudah berlangsung dari jaman dulu.

Pendekatan-Pendekatan Yang Dapat Digunakan Dalam Pemugaran Kawasan Ekonomi dan Perdagangan

Dalam melakukan proses konservasi dalam konteks pemugaran kawasan ekonomi dan perdagangan di kota, khususnya kota yang mempunyai sejarah yang panjang, diperlukan suatu perlakuan khusus yang mungkin agak sedikit berbeda dengan konservasi pada bangunan dan lingkungan lain.

Sebagai bagian dari aktivitas ekonomi, maka yang perlu diperhatikan di sini adalah apakah tujuan dari konservasi tersebut selain dapat menaikkan kelayakan visual (visual appropiateness) juga dapat menjadikannya sebagai nilai tambah bagi penduduk sekitar atau bahkan kota sekalipun.

Dalam hal ini, peran stakeholder dalam kawasan ekonomi dan perdagangan merupakan faktor penting dalam titik tolak analisa pemugaran tersebut. Apakah kegiatan konservasi tersebut tidak saja menjadikan kawasan tersebut hanya indah dan baik dari sisi visual dan fisik, melainkan juga menjadikannya suatu nilai tambah untuk lingkungan, kota dan bagi penduduknya sendiri.

Kawasan ekonomi dan perdagangan yang sudah melakukan kegiatannya sejak lama, pada dasarnya sudah merupakan suatu lingkungan yang sangat mempunyai identitas yang jelas. Jadi, pemugaran disini diharapkan bukan menjadikannya menjadi “mati” dalam kegiatannya. Keberadaan spirit of place pada kawasan sudah sangat terbentuk dalam waktu yang lama. Konservasi yang dilakukan di dalamnya untuk menjadikannya menjadi responsive environments masih dapat dikatakan relevan.

Unsur-unsur yang terkandung dalam Responsive Environments (Bentley et.al., 1985) seperti Permeability, Variety, Legibility, Visual Appropiateness, Richness, Robustness dan Personalization dapat dijadikan tujuan yang lebih penting yang akan dicapai dalam pembenahan lingkungan tersebut dibandingkan hanya dengan pendekatan spasial pada setiap bangunan atau keseluruhan lingkungan dari sudut kualitas visual dan fisik.

Pendekatan yang digunakan dalam proses konservasi di kawasan ini sebaiknya lebih ditujukan pada mempertahankan keberadaan kegiatan ekonomi yang telah berlangsung lama. Hanya saja pembenahan dilakukan untuk menjadikan kawasan lebih responsif terhadap perkembangan kota dan kelancaran kegiatan di dalamnya.

Keberadaan kawasan ekonomi dan perdagangan tersebut bila dilihat dari tinjauan konstelasi kawasan terhadap kota dapat menyebabkan pendekatan pemugaran yang berangkat dari keterkaitan visual  (visual linkages) dengan lingkungan sekitar melalui perancangan atau metode Context and Contrast (Hedman, 1984) dirasakan kurang tepat. Metode ini dapat digunakan bila proses konservasi telah sampai pada analisa pada tiap-tiap bangunan yang ada di dalamnya. Apakah perlakuan yang diterapkan pada bangunan-bangunan tersebut yang berdiri tidak pada satu jaman akan dibuat harmonis satu sama lain atau bahkan saling kontras antar tiap jaman dan langgam arsitektur.

Jika mengacu pada panduan konservasi yang lazim disebut dengan The Burra Charter, proses konservasi yang dilakukan pada kawasan ekonomi dan perdagangan lebih tepat diterapkan kegiatan-kegiatan preservasi kawasan. Hal ini disebabkan karena kawasan ekonomi tersebut dalam hal ini kawasan pasar yang telah mempunyai makna kultural yang besar dalam pembentukan morfologi kota, sehingga keberadaan pasar tersebut tidak lagi dilihat dari nilai-nilai visual dan fisiknya, melainkan pada kegiatannya yang sudah sangat solid.

Kebijakan preservasi yang diambil sebaiknya sudah melalui proses penilaian makna kultural (cultural significance) yang tepat. Dari proses penilaian makna kultural telah didefinisikan terlebih dahulu, antara lain :

  • Aesthetic Value : dari nilai estetis, pasar yang berlangsung lama mempunyai nilai-nilai estetis yang khas karena terbentuk pada jaman-jaman yang berbeda, sehingga dapat dikatakan mempunyai karakter visual yang bermacam-macam.
  • Historic Value : pasar yang berlangsung lama jelas merupakan salah satu unsur pembentuk morfologi kota.
  • Scientific Value : apakah nilai-nilai yang diberikan pada kota dan lingkungan mempunyai kejarangan dan keunikan tertentu, dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan selanjutnya.
  • Social Value : dalam pembentukannya yang panjang dan melalui jaman-jaman yang berbeda, keragaman sosial seperti etnis, kebudayaan dsb turut mempengaruhi kekhasan kawasan.

Selain indikator-indikator tersebut, yang perlu diperhatikan dalam konservasi kawasan ekonomi dan perdagangan adalah peran stakeholder dalam mempertahankan kegiatan kawasan sebagai kegiatan yang menguntungkan dalam sisi ekonomis.

Oleh karena itu,  kebijakan preservasi lebih cocok diterapkan untuk mempertahankan kegiatan kawasan yang telah berlangsung lama dan sangat terkait dengan roda kegiatan kota. Selain itu, spirit of place yang telah kental dikhawatirkan terganggu bila proses konservasi yang diambil hanya mementingkan unsur visual dan fisik yang dapat berakibat nilai ekonomi yang telah ada malah akan menjadi menurun.

Studi Kasus : Pemugaran Kawasan Pasar Baru di Bandung

Kawasan Pasar Baru di Bandung merupakan kawasan ekonomi dan perdagangan yang sangat berpengaruh dalam pembentukan morfologi kota Bandung. Oleh karena itu, keberadaan Pasar Baru sudah mencapai tahap spirit of place yang solid, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dari sisi visual, fisik dan kelancaran kegiatan, kondisi di Pasar Baru sudah sangat mengkhawatirkan. Kemacetan yang diperparah dengan banyaknya pedagang kaki lima menyebabkan spirit of place kawasan Pasar Baru yang dulu merupakan kawasan berbelanja yang nyaman mulai terganggu. Serta kondisi bangunan-bangunan khususnya bangunan kuno peninggalan kolonial yang dalam kondisi mengkhawatirkan membuat nilai-nilai kelayakan visual mulai menurun. Di sisi lain, dari segi ekonomi dan perdagangan, kawasan ini masih sangat diandalkan oleh pemerintah kota Bandung.

Oleh sebab itu, titik awal proses konservasi yang diambil diawali dengan permasalahan : Bagaimana menjadikan kembali kawasan Pasar Baru menjadi kawasan yang responsif terhadap perkembangan kota, juga menaikkan nilai-nilai kelayakan visual yang terdapat di dalamnya tetapi juga dapat mempertahankan sifatnya sebagai kawasan ekonomi dan perdagangan.

Dalam tindakan, peran stakeholders (pedagang, pembeli dan pelintas serta pemerintah kota) mempunyai porsi yang sama sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan. Untuk mempertahankan nilai ekonomi, secara singkat lebih dipandang dari sisi pedagang dan pembeli. Untuk kualitas fisik lingkungan baik dari visual dan kelancaran kegiatan, dapat dipandang dari sisi pembeli dan pelintas. Sedangkan pada tujuan sebagai lingkungan yang responsif, sudut pandang pemerintah kota lebih dapat digunakan.

Oleh karena itu, pada konservasi kawasan Pasar Baru kebijakan yang diambil secara keseluruhan adalah kebijakan preservasi, untuk mempertahankan kegiatan yang sudah sangat solid. Pembenahan lingkungan agar lebih responsif lebih bersifat visual dan fisik untuk meningkatkan kelancaran kegiatan dan kenyamanan.

Untuk pembenahan visual dan fisik, metode Context and Contrast atau dengan pendekatan harmonis atau kontras lebih dapat digunakan. Tentunya setelah dilakukan analisa pembobotan dan pengkategorian kawasan sesuai dengan makna kulturalnya yang telah disesuaikan kembali dengan konsep mempertahankan kawasan sebagai kawasan ekonomi dan perdagangan yang khas.

Dalam proses-proses konservasi ini, faktor lain yang tidak kalah penting adalah peran serta pemerintah kota dalam penegakkan hukum agar kebijakan-kebijakan yang telah dan akan diambil dapat berjalan dengan baik. Serta perlu juga dikaji peraturan-peraturan baru yang dapat membantu proses konservasi.

Dengan pendekatan-pendekatan ini, diharapkan keberadaan kawasan Pasar Baru, selain tetap mempertahankan keberadaannya sebagai kawasan perekonomian dan perdagangan kota juga mempunyai nilai-nilai kelayakan visual yang baik.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.