(sambungan dari bagian 2)
Tipologi Lansekap terkait dengan Kepercayaan
Dari usaha pengintisarian criteria atau karakter desain dari lansekap religius tersebut, berikut dapat dikemukakan sekilas dari desain lansekap religius yang berkembang sampai sekarang di dunia ini. Pengkategorian agama/kepercayaan dibatasi pada agama-agama/kepercayaan besar utama di dunia ini untuk dapat dilihat pengaruh dan perkembangannya masing-masing.
1. Lansekap Hindu
Ajaran Hindu pada dasarnya adalah kepercayaan yang mencintai alam. Mereka menganggap bahwa dunia merupakan sebuah perwujudan dari Dewi yaitu ibu dari kehidupan, dan menitis menjadi sungai yang memberikan kehidupan pada tanah sehingga subur. Selain itu, Hindu juga memuja Shiwa dan Wisnu dan Brahma. Dengan demikian, trinitas ini yang kemudian menjadi dasar pemujaan pada agama Hindu. Agama Hindu sendiri menganggap gunung sebagai tempat tinggal dewa dengan puncaknya Sumeru (Meru) sebagai rumah dewa yang tertinggi dan sebagai pusat dari alam semesta.

Tipologi Site Plan Kuil Hindu India
Hindu sendiri yang umumnya kita kenal dapat terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Hindu India dan Hindu Bali. Walau pada dasarnya memiliki kesamaan dalam pemujaan trinitas, tetapi ada perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan dalam turunannya menjadi desain lansekap.
Dalam Hindu India, dalam sebuah literature menyatakan bahwa para dewa senang bercengkerama dekat kumpulan pohon yang rindang dekat dengan sungai, pegunungan dan mata air dan dekat bercengkerama di kota-kota dengan taman-taman. Dengan demikian, kuil Hindu dibangun diantara sungai dan pepohonan dan taman menjadi bagian daripadanya. Mandala pertama kali muncul di ajaran Hindu, yang juga menggambarkan lotus, sungai, kolam-kolam dan danau. LAnsekap Hindu India terkait dengan kuil tempat peziarahan. Kuil ini dilengkapi dengan aliran air untuk mandi ritual dan jalur peziarah menuju tempat sucinya. Tempat mandi ritual tersebut dapat berupa sumur yang berundak-undak, kolam dengan tangga-tangga atau tepi sungai dengan teras-teras (seperti pada tepi sungai Gangga).
Sedangkan pada Hindu Bali, pengaruh animisme Austronesia cukup kuat sehingga membentuk suatu pemahaman baru pada konsep ajaran Hindu yang diturunkan menjadi criteria desain.
Konsep perencanaan tapak yang utama dari Hindu Bali adalah arah yang benar (segala sesuatu di alam pasti mempunyai tempat yang ideal) dan adanya ide-ide suci dan kotor secara upacara. Selain itu yang mempengaruhi perencanaan lansekap Bali adalah konsep Tri Angga yaitu Buhr Loka ; dunia bawah – tempat iblis dan roh jahat, Buwah Loka ; dunia manusia dan Swah Loka ; dunia surga ; tempat para dewa dengan Gunung Agung sebagai kediaman para desa.

Mandala. Suatu konsep kosmologis yang digunakan di perencanaan lansekap Hindu Bali
Konsep selanjutnya adalah konsep Sanga Mandala, yaitu 8 arah angin dan 1 pusat sebagai pengatur tata ruang dari suatu compound rumah Bali dan banyak segi kehidupan di Bali. Arah utara (kaja) dianggap suci dan murni, dan selatan (kelod) sebagai tidak murni dan kotor. Timur (kangin) sebagai suci dan barat (kauh) sering dianggap kotor. Tempat terbaik adalah timur laut (kaja kangin) dan tempat tidak menguntungkan ada pada barat daya (kelod kauh). Konsep-konsep ini yang kemudian menjadi dasar lansekap Bali untuk tata ruang.
2. Lansekap Buddhisme
Kriteria dasar desain dari lansekap Buddhisme bersumber dari kisah mengenai penyebaran ajaran Sang Buddha pada pengikutnya di sebuah taman. Dari kisah ini, kemudian elemen taman merupakan bagian yang penting dari suatu lingkungan kuil yang kemudian disebut vihara. Vihara sendiri sebenarnya berarti taman yang ada di dalam lingkungan biara, dan digunakan sebagai taman kontemplasi.
Mandala juga terdapat dalam ajaran Buddha yang biasanya dijadikan suatu acuan perencanaan taman. Mandala menunjukkan Sang Buddha yang berada pada kuil dan taman mengisnpirasikan pemnbuatan taman dengan simbolisme yang ekuivalen. Mandala dimaksudkan sebagai perpaduan antara lingkaran, poligon dan masyarakat. Digunakan sebagai simbol dari hubungan manusia dengan dunia dan alam semesta dan digunakan juga sebagai media meditasi. Mandala juga mengambarkan sebuah istana dengan empat gerbangnya yang menghadap empat arah di dunia. Bunga lotus berkelopak empat berada di tengah istana tersebut dan terletak di atas susunan perhiasan.
Elemen arsitektur yang berpengaruh dalam lansekap Buddhisme adalah keberadaan stupa. Struktur ini biasanya ditempatkan di sebuah bukit yang berada pada kaki gunung tertentu. Perencanaan tapak stupa tersebut dibuat agar terjadi suatu sirkulasi memutar dari peziarah, sehingga tercipta sebuah prosesi structural dari bawah (dunianya manusia dengan denah bujur sangkar), terus hingga ke stupa (dunianya para dewa dengan denah lingkaran) sebagai simbolisme perjalanan manusia menuju nirwana.

Stupa merupakan tempat yang penting dalam perencanaan lansekap Budhist
Yang kerap muncul di lansekap Buddhisme adalah simbolime dari angka 4. Dasar stupa merupakan teras dengan 4 sisi, dan pola mandala pun mempunyai empat sudut. Taman yang melambangkan taman tempat Buddha menyebarkan ajarannya juga dikisahkan dengan 4 gerbang dan lotus yang ada mempunyai empat kelopak.
Konsep-konsep dasar di atas tersebut yang kemudian berkembang menjadi dasar perencanaan kompleks-kompleks religius ajaran Buddhisme. Perkembangannya, konsep-konsep tersebut dapat ditemui pada kompleks-kompleks kuil di kaki Himalaya, di Borobudur dan beberapa kompleks kuil di Thailand dan Kamboja.
3. Lansekap China
Lansekap China berfilosofikan dari ajaran Konfusianisme, Taosime dan Buddhisme. Semua ajaran ini menekankan pada keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Pada konfusianisme, keteraturan geometris dianggap penting, karena menurutnya pembelajaran membuat manusia menjadi lebih baik. Dan pembelajran yang baik adalah yang mempelajari ilmu-ilmu yang “mulia” seperti seni, musik, matematika, menulis, dsb. Ini yang menimbulkan konsep bahwa detail dan keindahan visual serta geometris yang teratur menjadi dasar estetika pada lansekapnya.
Sedangkan pada Taoisme, ekspresi estetika terlihat pada kealamian dari suatu benda. Dengan demikian, kelihatan lebih alami /seperti kondisi aslinya di alam maka hal tersebut mempunyai tingkat estetika yang lebih tinggi. Usaha untuk menduplikasi alam seperti gunung, hutan dan sungai pada skala yang kecil seperti taman menjadi suatu konsep penting pada lansekap berunsur Taoisme.

Kota Terlarang di Beijing merupakan contoh penataan site plan dengan konsep Konfusianisme
Buddhisme sendiri adalah pengaruh yang dating dari India, tetapi lebih kepada pengenalan spiritual dari nirwana dan pentingnya taman sebagai bagian dari meditasi.
Pada penerapannya dalam lansekap dan desain taman, perpaduan ini muncul sebagai bentuk-bentuk artifak yang spektakuler. Konfusianisme yang memuja estetis geometris lebih menuju kepada taman-taman istana dengan demikian dekat dengan politik kerajaan. Sedangkan Taoisme lebih melihat dunia luar dan alam sebagai bagian dari kehidupan. Perencanaan lansekap Taoisme dekat dengan seni lukis lansekap China, karena memang ada usaha untuk membuat miniature alam pada sebuah desain lansekap. Contoh yang spektakuler adalah Forbidden City yang mempunyai pola geometris dalam perencanaan tapaknya, tetapi di dalam dindingnya taman-taman Taoisme dapat ditemui.
4. Lansekap Jepang
Agama Shinto memandang bahwa ada hubungan yang erat antara dewa-dewa dan alam. Dengan demikian, Shinto menganggap hutan dan pohon adalah tempat suci dan dipercaya sebagai tempat kediaman para dewa.
Lansekap Jepang selanjutnya berkembang menjadi Lansekap Zen dengan ajaran Zen Buddhisme sebagai perpaduan antara Shinto dan Buddha. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa Shinto menganggap pohon sebagai tempat suci dan Buddha menganggap gunung sebagai tempat suci. Hal ini yang kemudian menjadi dasar perencanaan lansekap zen sebagai media meditasi. Penggunaan taburan kerikil putih menjadi simbolisme aliran air dengan perpaduan suiseki sebagai simbolisasi gunung.
Pada perkembangannya, ada 3 macam taman Jepang yang terpengaruh oleh agama. (1) Taman yang terpengaruh Buddha Amida;

Kota Jerusalem.
sebagai perkembangan taman Buddha di India, dengan Mandala sebagai poros dan konsep utama. (2) Taman Zen Buddhisme; adalah taman meditasi. Taman ini mereduksi gambaran dunia menjadi hal yang sangat essensial dalam komposisi yang abstrak. Taman ini bentuk oleh perpaduan gravel putih dan batu suiseki. Komposisinya terutama aliran gravel dapat diubah-ubah seiring proses meditasi. Dengan demikian membuat dan merawat taman Zen ini dianggap sebagai aktivitas spiritual. (3) Taman Biara; merupakan taman yang terpengaruhi oleh perpaduan Buddha dan Shinto. Ekspresi visualnya seperti taman di China yang mencoba membuat bentuk ideal dari alam dengan elemen-elemen suci seperti pohon dan hutan (Shinto) dan gunung-gunung (Buddha). Dalam taman ini juga digunakan gravel putih yang banyak sebagai simbolisasi dan juga untuk meditasi. Taman ini yang kemudian banyak dipakai di istana-istana, kuil-kuil bahkan taman umum pada saat ini.
5. Lansekap Yahudi
Taman Yahudi bersumber dari Injil Perjanjian Lama sebagai inspirasi awal dan literature utama. Selain itu, sastra Nyanyian Sulaiman juga merupakan puisi yang berpengaruh dalam literature taman Yahudi.
Taman Yahudi dimulai dengan ekspresi dari Taman Eden yang diceritakan di Injil PErjanjian Lama tersebut, dimana disebutkan peranan pohon buah-buahan yang tumbuh di taman surgawi tersebut. Disebutkan pula adanya sungai yang mengalir dan bercabang 4 dan salah satunya bercabang di Sungai Eufrat, Babylon(Irak).
Ekspresi dalam kitab ini yang kemudian juga terdapat pada ekspresi lansekap Islami. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya simbolisme surga dalam agama-agama ini mengacu pada keberadaan taman lengkap dengan pohon dan sungai di dalamnya. HAnya saja perkembangannya taman-taman ini tidak berada pada bangunan-bangunan suci, tetapi lebih kepada taman domestic privat yang kemudian kurang berkembang.
Di Jerusalem sendiri, taman-taman yang besar terdapat di luar dinding dari kompleks suci di sana. Sedangkan ekspresi taman dalam lingkungan tembok suci tersebut sedikit terbatas pada penanaman bunga-bungaan khususnya mawar, karena Nyanyian Sulaiman kerap menyebutkan bunga-bungaan dalam puisinya.
6. Lansekap Nasrani
Lansekap Nasrani berkembang setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi dan dikembangkan oleh biarawan pada awal masa abad kegelapan (5 M). Lansekap Nasrani sendiri tidak berkembang di kawasan Timur Tengah (Israel, Jordania, dsk) karena saat itu kebudayaan Yahudi masih mendominasi.

Contoh usaha untuk membuat taman Nasrani yang bersumber dari tafsir Injil
Pada Masa Kegelapan itu yang bermain peranan adalah biarawan karena biara-biara Kristen yang muncul pada abad ke-4 M menjadi penting karena sebagai sumber kebudayaan dan pembelajaran. Lansekap/taman Kristiani sendiri berkembang karena biara harus menghidupi dirinya sendiri sehingga pertanian dan hortikultur menjadi sangat penting. Biarawan tidak saja harus mengetahui ilmu-ilmu agama tetapi juga harus menguasai ilmu tumbuhan dan obat-obatan herbal. Interaksi pengetahuan dan budaya mengenai pembuatan taman ini didapat dari pertukaran pengetahuan dan tanaman dari para musafir dan peziarah yang singgah di biara.
Taman pertama yang muncul memang berada di dalam lingkungan dinding biara dengan tanaman berupa sayuran, anggur dan buah-buahan lain. Bunga ditanam sebagai dekorasi gereja. Pada perkembangannya, bunga-bunga menjadi elemen penting dalam taman gereja bahkan dipaki dalam dekorasi altar. Bunga selanjutnya menjadi simbolisme yang diasosiasikan dengan Bunda Maria dan putranya Jesus. Bunga yang terkenal adalah Lilium candidum yang kemudian dikenal dengan Lili Madonna sebagai symbol kesuciannya. Sedangkan mawar sebagai symbol atribut dari Ratu Surga yang melekat pada Maria. Selanjutnya, mawar disimbolisasikan sebagai darah Kristus.
Pada sebuah biara selalu terdapat ruang terbuka yang berpagar, dan biasanya menempel di sebelah selatan gereja. Pada ruang terbuka ini biasanya para biarawan bercengkerama dan menikmati sinar matahari dan udara segar. Ruang terbuka ini disebut cloistered garth biasanya berbentuk segi empat dan dibagi kembali menjadi 4 bagian oleh persilangan jalan setapak. PAda pertemuan persilangan biasanya terdapat sumur, air mancur atau kolam kecil tempat sumber air untuk mengairi taman ini. PAda 4 bagian ruang terbukaini, ditanami oleh tanaman-tanaman yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari biara atau tanaman hias dan herbal.
Sebenarnya tidak ada kaidah khusus dari lansekap Nasrani ini. Yang ada sebatas tipikal taman-taman yang ada dalam lingkungan biara dan ini tidak dapat dipastikan bahwa perencanaannya menggunakan kaidah-kaidah yang ada dalam kitab suci. Kebebasan desain tetap berlaku, bahkan ada beberapa yang mencoba mengasimilasikan desain lay-out taman biara tersebut dengan tanaman-tanaman yang ada disebutkan di kitab Injil. Dan pola penanamannya menggunakan pola segi empat yang dihasilkan dari membagi cloistered garth tersebut menjadi 4 bagian.
7. Lansekap Islami
Yang khas dari lansekap islami adalah mereka terkadang disebut juga dengan taman surga (paradise garden). Taman ini memang awalnya adalah peralihan bentuk dari seni taman bangsa Persia yang belum memeluk Islam dengan tafsir-tafsir ayat Al Qur’an setelah Islam tersebar luas. Dengan demikian, memang ada tujuan untuk menjadikan taman ini sebagai perwujudan dari surga di dunia ini.

Generalife di Granada. Contoh penerapan kaidah taman Islami
Ayat-ayat yang menyatakan bahwa di dalam surga terdapat sungai-sungai yang mengalir di bawahnya dan deskripsi tentang pohon-pohon kurma, zaitun dan sebagainya menjadi rujukan utama dari desain taman Islami tersebut. Selain itu, budaya tradisional Persia akan taman yaitu bahwa taman mempunyai unsur air, naungan, musik dan bunga. Selain itu, pola dasar yang dianut bangsa Persia akan taman adalah manisfestasi dari konsep kosmologi mereka mengenai dunia yang dibagi 4 oleh 4 sungai besar. Pernyataan ini juga diperkuat dengan pernyataan Injil Perjanjian Lama tentang 4 sungai surga, dimana menurut Islam Injil Perjanjian Lama adalah bagian dari kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa.
Dasar-dasar ini yang sepertinya menjadi awal desain dasar dari taman Islami. Selanjutnya, bentuk-bentuk ini yang kemudian menjadi tersebar seiring dengan tersebarnya agama Islam ke seluruh penjuru dunia hingga ke Eropa (spanyol) dan Mughal (India). Perkembangan taman Islami dengan pola dasar inilah tyang kemudian menjadi artifak besar lansekap dunia seperti Taj MAhal, Shalamar Bagh, Al Hambra, Generalife, dsb.
Nilai-nilai syariah berperan pada perkembangan taman Islami ini sebagai unsur untuk membuat spirit taman Islami ini menjadi bagian dari kegiatan ibadah, seperti mensimbolkan keserhanaan, konservasi, pensyukuran nikmat Allah, dsb. Hal ini yang kemudian disimbolkan dalam desain yang sederhana, tidak bermegah-megah dan tidak menyimbolkan bentuk figure makhsluk hidup dalam bentuk patung.
Selanjutnya, sebagai kebudayaan besar, taman Islami juga mempengaruhi keberadaan perkembangan seni lansekap terutama pada masa renaissance dengan terdapat pola-pola dasar yang sama pada taman-taman di Italia dan Prancis pada masa renaissance.
Penutup
Adakah hubungan antara agama dan kerpercayaan dengan lingkungan binaan? Pertanyaan ini muncul tatkala keberadaan artifak-artifak kebudayaan manusia berkembang seiring dengan perkembangan religi umat manusia.
Bahwa manusia pada fitrahnya memerlukan Sang Pencipta, baik dari sudut manapun mereka memandang atau memuja, sebagai bentuk syukur dan pemujaan bahwa mereka telah diberikan kesempatan dan nikmat hidup di dunia. Inilah yang menjadi dasar dari pembentukan lansekap sebagai artifak budaya yang berdasarkan dari kepercayaan.
Kepercayaan, baik yang sifatnya Pantheisme atau Theisme pada dasarnya mempunyai nilai yang sama akan keberadaan alam sekitar. Bahwa manusia seharusnya dapat hidup beriringan dengan baik dengan alam. Dengan demikian, Sang Pencipta tidak akan murka karena hambaNya yang selalu menjaga keberadaan dan kelangsungan alam semesta.
Sedangkan desain hanyalah suatu alat dan bentuk interpretasi bebas dari manusia sebagai mahluk berbudaya dalam mengartikan pahamNya dan ajaranNya. Tafsir dalam bentuk desain merupakan bagian dari seni religius yang merupakan bagian dari suatu lansekap religius pula. Oleh karena itu, sebagai suatu kegiatan yang aktif, mendesain yang terkait dengan sisi religius terpulang kembali kepada niatan si perancang. Untuk apa iya mendesain sesuatu yang religius tersebut? Bagi ummat Muslim yang percaya bahwa sesuatu amalan itu tergantung niatnya, maka niatan mendesain semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah niatan yang termulia.
Dan ini berarti ibadah apabila dilakukan dengan ikhlas.
Desember 23, 2008 at 11:42 am
wuih, doni…artikelnya keren banget….padet sekaliii….andai aja dulu waktu kuliah udah ada blog2an begini…hi…hi…hi…bisa2 tulisanmu banyak yang quot…
aku jadi inget syairnya Emha Ainun Nadjib yang judulnya : 1000 Masjid 1 Jumlahnya….nyambung banget sama yang ada di artikelmu..
keep up the best, ya, don….wish u luck!!!
Juli 24, 2009 at 10:17 am
saya ,zellige craftsmen ingin mendapat info mengenai “mandala” karena pola/motif geometric/symetric dari zellige mosaic mirip dgn mandala (islam ,budha,kristen dll)
trims,turangan
Februari 1, 2012 at 3:13 pm
ijin copas gan…