Kenaikan harga BBM yang melambung mau tidak mau memang berimbas pada harga bahan bangunan yang berujung pada mahalnya biaya membangun rumah. Bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah idaman, tentu hal ini sangat memberatkan. Segala kemungkinan dicoba untuk dapat membangun rumah sesuai dengan keinginan tanpa menganggu anggaran. Salah satu trik yang didengung-dengungkan untuk berhemat adalah mendesain dan membangun sendiri. Tapi, bagi masyarakat yang awam di bidang tersebut, apakah trik ini nyata untuk diterapkan? Apakah memiliki rumah idaman dengan anggaran yang terencana dan pasti dapat tercapai? Apakah rumah idaman tersebut hanyalah kembali menjadi istilah rumah yang hanya diidam-idamkan tanpa dapat tercapai?
Sepintas, mendesain dan membangun sendiri memang menghilangkan komponen nilai yang harus dikeluarkan yaitu biaya jasa arsitek dan jasa kontraktor/ pemborong. Umumnya, kedua biaya ini berkisar dari 10% – 15% dari rencana anggaran biaya (RAB) membangun rumah. Memang lumayan penghematannya. Tetapi, kalau tidak hati-hati dan cermat, trik ini justru akan menjadi bumerang karena sang pemilik rumah tidak dapat mengontrol harga pekerjaan di lapangan. Untuk itu, langkah awal yang perlu diambil adalah merubah pola pikir dan membuat perencanaan yang matang.
Perencanaan yang Matang
Pola pikir yang dirubah adalah sang pemilik rumah harus merubah pola pikirnya dari pemilik rumah menjadi seorang perancang. Kenapa demikian? Karena ada perbedaan mendasar dari dua posisi ini. Pemilik rumah cenderung untuk mendahulukan keinginannya dibanding kebutuhannya tanpa secara matematis dapat menghitung konsekuensi logis (tingkat kesulitan dan biaya) dari keinginannya tersebut. Sedangkan perancang, bertugas menjaga agar kebutuhan ruang dari kegiatanlah yang diprioritaskan dan menjaga agar konsekuensi biaya yang diakibatkan perencanaan dapat seefisien mungkin. Dengan bersikap sebagai perancang, maka pemilik rumah harus cermat memilah-milah kebutuhan dan selera yang harus diprioritaskan, karena tidak semua kegiatan dapat diwadahi apabila ada pembatasan kemampuan anggaran.
Selanjutnya adalah perancangan yang tepat. Memang, sebagai orang yang tidak terdidik formal untuk merancang bangunan, hal ini dirasa sulit. Ada cara yang lebih mudah sebagai titik awal merencana, yaitu dengan melihat contoh-contoh denah dari buku-buku atau brosur. Carilah denah yang paling mendekati dengan kebutuhan kita. Sekali lagi, kebutuhanlah yang dikedepankan. Dari situlah ide selanjutnya dapat dikembangkan, tanpa menjiplak mentah-mentah denah yang dijadikan referensi karena tidak semua denah cocok diterapkan di tapak (lokasi) kita.
Perencanaan yang baik adalah menggunakan sistem modul. Modul adalah sistem standar ukuran yang dapat digunakan berulang-ulang. Berdasarkan pengalaman, untuk rumah berukuran sedang (< 150 m2) modul yang paling ideal adalah 3 m x 3 m. Dengan modul ini, berarti konfigurasi ruang adalah kelipatan dari struktur 3 m x 3 m. Kamar tidur utama lengkap dengan kamar mandi dan ruang baju dapat berukuran 3 m x 6 m. Kamar anak cukup 3 m x 3 m. Ruang keluarga cukup dengan lebar 3 m. Dengan lebar 3 meter, maka dengan televisi 21 inchi, sudah dicapai jarak pandang ideal. Kamar mandi anak dapat berukuran 3 m x 1,5 m. Ruang makan untuk 4 orang dapat berukuran 3 m x 3m, dan seterusnya.
Dengan modul yang seragam, maka sistem struktur rangka yang dipakai juga tidak berdimensi besar. Kolom dan balok yang dibutuhkan dapat seragam ukurannya yang berakibat pada penghematan kebutuhan besi beton dan betonnya sendiri. Dengan membuat ruangan sesuai dengan modul, maka penggunaan kolom praktis sebagai pengikat pertemuan dinding dapat dikurangi karena sekaligus ditopang fungsinya oleh kolom struktur.
Untuk bangunan dengan dua lantai, maka modul tersebut harus berulang di lantai atas. Modul vertical (jarak antar lantai) yang digunakan dapat berjarak 3 m atau 3,6 meter. Satu hal yang acap dilupakan oleh pemilik rumah karena keinginan untuk mendapatkan ketinggian langit-langit (plafon) yang maksimal – dengan alasan agar udara lebih dingin – maka ditinggikanlah jarak antar lantai tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi harus dipahami bahwa ruang-ruang yang membutuhkan ketinggian plafon yang tinggi sebenarnya hanyalah ruang-ruang komunal seperti ruang keluarga. Untuk ruang tidur sebenarnya tidak terlalu perlu plafon yang tinggi. Apalagi dapur dan kamar mandi. Selain itu beberapa konsekuensi logis yang harus diterima akibat peninggian jarak antar lantai antara lain adalah :
(1) meningkatnya kebutuhan material dinding dan pengikutnya (plesteran, acian dan cat) untuk semua dinding sekeliling dan dalam rumah
(2) ruang tangga yang semakin luas karena semakin tinggi jarak antar lantai maka semakin banyak jumlah anak tangga dan semakin banyak beton yang dipakai untuk tangga
(3) tingginya plafon berakibat pada kebutuhan daya penerangan buatan yang lebih banyak. Untuk kamar tidur, berarti kapasitas AC juga harus lebih tinggi.
Perencanaan kamar mandi dan area basah dilantai atas juga perlu diperhatikan. Rencanakanlah ruang-ruang basah tersebut tepat diatas kamar mandi atau ruang basah di bawahnya. Tindakan ini mengakibatkan penghematan dalam pipa-pia plumbing baik air bersih dan air kotor sekaligus mempermudah perawatannya. Hanya saja perlu diperhatikan sebaiknya tidak merencanakan kamar mandi diatas dapur atau ruang makan, karena kurang baik dari sisi etika dan kenyamanan.
Tampilan Bangunan dan Material
Sebagai kawasan tropis, tampilan bangunan yang “aman” untuk segala cuaca adalah rumah dengan atap genteng, dengan teritisan yang lebar. Teritisan yang cukup lebar mampu mengurangi tempiasan air hujan sehingga bangunan akan lebih awet. Untuk itu, bentuk dasar atap perlu dipilih yang cocok. Bentuk atap pelana lebih cocok untuk penghematan material. Karena dengan bentuk ini, maka dinding dapat berfungsi sebagai kuda-kuda. Dengan bentuk atap pelana terlebih pelana tunggal tanpa jurai, maka biaya rangka atap makin murah. Karena biaya pemasangan rangka atap tergantung dari banyaknya jurai atap baik talang jurai maupun jurai luar.

Rumah beratap bentuk pelana berarti menghemat rangka atap yang dipakai.
Dengan atap pelana, maka rangka atap lebih sederhana sehingga biayanya semakin murah. Usahakan tidak menggunakan bahan kayu untuk rangka atap. Selain menjaga kelangsungan hutan, kualitas kayu saat ini kurang baik dibanding dulu dan tidak sebanding dengan harganya yang semakin mahal. Saat ini banyak rangka atap berbahan baja ringan yang terjangkau harganya. Pilihlah aplikator yang bertanggung jawab terhadap perhitungan struktur dan pemasangannya serta dapat menerangkan perbedaan bentuk profil rangka serta sistem sambungannya.
Keuntungan lain bentuk atap pelana yaitu dihasilkannya ruang bawah atap (loteng) yang cukup lega untuk menjadi ruang baru, misalnya untuk gudang. Beritahukan aplikator rangka atap bahwa ada rencana untuk menggunakan loteng tersebut sebagai ruangan. Dengan demikian, mereka dapat mendesain aplikasi produknya mengikuti keinginan tersebut sehingga ruang tersebut bebas rangka atap yang bersilangan.
Saat ini, perbandingan biaya membangun antara biaya upah dan material sudah bergeser dari 20 : 80 dalam beberapa tahun yang lalu menjadi sekitar 30 : 70. Ini berarti bahwa sedikit mungkin waktu yang dihabiskan untuk membuat sesuatu, maka harga bangunan dapat lebih murah. Mensiasatinya adalah dengan menggunakan material yang siap pakai. Lebih banyak material fabrikasi, maka makin dapat ditekan biaya pembangunan tersebut. Sebagai contoh, penggunaan conblock sebagai carport akan jauh lebih murah dibanding dengan pembuatan koral sikat dan batu alam. Yang perlu diingat adalah penggunaan material fabrikasi ini harus sudah direncanakan terlebih dahulu dalam desain awalnya.
Sistem pelaksanaan pembangunan perlu dipilih yang mendukung penghematan. Upayakan untuk memborongkan upah pembangunannya kepada pemborong yang sudah terbukti kredibilitasnya. Dengan memborongkan upah pembangunan, maka satu masalah komponen biaya yaitu upah pembangunan sudah terselesaikan. Sehingga kita dapat memprediksi biaya yang akan dikeluarkan dan dalam jangka waktu yang tertentu. Karena dengan memborongkan upah, maka pemborong akan tertantang untuk menyelesaikan pembangunan rumah tepat waktu. Tuangkan perjanjian pemborongan dalam kontrak sederhana kalau perlu dengan menyertakan sanksi-sanksi akibat keterlambatan, ketidaksesuaian dengan bestek, dsb. Yang perlu diperhatikan dalam memborongkan upah adalah sebaiknya gambar kerja sudah lengkap sehingga penawaran harga lebih akurat dan pengawasan di lapangan lebih mudah.

Penggunaan material fabrikasi, seperti rooster siap pakai, kusen alumunium dan kawat ayam sebagi pagar dapat menghemat anggaran membangun.
Material finishing juga perlu dipilih yang mendukung penghematan. Umumnya, material finishing menghabiskan anggaran hampir 50% dari keseluruhan biaya material. Banyak sekali pilihan material fabrikasi yang cukup baik saat ini. Produk-produk dari RRC dapat saja dipakai seperti pada saniter dan fitting-fitting plumbing. Seleksi produk tetap diperlukan khususnya soal layanan purna jualnya. Untuk finishing dengan tangan, cobalah berkreasi dengan material unfinished untuk tempat-tempat tertentu. Dinding-dinding dapat dibiarkan polos hanya plesteran dan acian tanpa cat jika perlu. Penempatan yang strategis malah akan menambah nilai estetika rumah tersebut. Bahkan jika perlu, rencanakan dinding-dinding dengan bata ekspose polos sebagai aksen. Hanya saja pilihlah posisi-posisi yang tidak rentan akan bahaya rembesan air dan terpaan air hujan.
Bantuan Tenaga Ahli tetap Perlu
Untuk orang yang awam, mendesain dan membangun sendiri sebenarnya tetap memerlukan bantuan tenaga berpengalaman di bidang tersebut. Untuk dapat menuangkan ide-ide menjadi suatu dokumen gambar kerja yang representatif, bantuan juru gambar tetap diperlukan. Hanya saja, mungkin tidak perlu sampai menggunakan jasa arsitek professional yang berpengalaman. Mahasiswa arsitektur tingkat akhir dirasa cukup untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Selain sebagai pemeriksa kaidah-kaidah struktur tugasnya juga sebagai kritikus untuk estetika seperti komposisi, warna, dsb. Hitung-hitung sebagai tambahan pengalaman mereka sebelum terjun di dunia profesi.
Selanjutnya, tenaga ahli struktur juga diperlukan untuk merancang sistem struktur yang tepat dan efisien. Karena dengan penghitungan yang cermat, maka penghematan jadi lebih tinggi. Tenaga ahli struktur ini juga dapat ditugaskan untuk menghitung rencana anggaran biaya (RAB) bangunan, sehingga biaya yang diperlukan akan lebih rinci. Untuk itu, pemilihan tenaga ahli ini perlu sedikit selektif dengan pertimbangan tingkat akurasi yang tinggi.
Biaya-biaya tenaga-tenaga ahli ini, jika dibanding penghematan yang diakibatkan pemakaian hasil jasa mereka tentu tidak seberapa. Kira-kira total biaya penggunaan tenaga ahli diatas sekitar 2% saja dari nilai bangunan. Suatu nilai yang kecil dibanding manfaatnya.

Material unfinished juga dapat tampil menarik. Seperti pada dinding plesteran yang dibuat pola tertentu dan lantai semen bertekstur.
Komitmen Waktu
Yang terakhir yang perlu diperhatikan dalam mendesain dan membangun sendiri adalah komitmen waktu dalam mengawal prosesnya dan menjaga ritme kerja. Karena bertindak sebagai perancang, maka waktu luang harus direlakan untuk kegiatan tersebut tanpa dibayar. Karena sejatinya, menggunakan jasa arsitek dan kontraktor professional adalah sebagai kompensasi dari untuk tetap mempunyai waktu luang yang berkualitas, tanpa harus dipusingkan dengan masalah-masalah teknis yang tidak dikuasai.
Nah, sekarang pilihan tergantung Anda. Mau merancang dan membangun sendiri dengan konsekuensi tidak mempunyai waktu luang atau menyewa jasa arsitek professional untuk melayani Anda dalam mewujudkan rumah idaman dengan tetap mempunyai waktu luang yang berharga.
Semua tergantung Anda. Selamat membangun.
(Tulisan ini telah dimuat secara bersambung di Majalah IDEA edisi 62/VI/ 2009 dan edisi 63/VI/2009; Maret dan April 2009)
November 23, 2009 at 11:52 am
Dear Donny,
Terima kasih atas artikelnya, enak di baca dan dicerna hingg mudah di mengerti,hingga membuka pola pikir saya yg akan merenov rumah BTN. sepertinya ada bakat jadi penulis juga nih..
Oke deh salam sukses selalu dan sekali lagi thanks atas atas artikelnya.
Salam
Sigit
November 23, 2009 at 12:48 pm
Kpd Mas Sigit,
Terima kasih atensinya atas tulisan saya. Mudah-mudahan bermanfaat untuk rencana merenovasi rumahnya.
regards,
DF
Maret 2, 2010 at 8:17 pm
Yth Pak Doni Fireza,
Tulisan yang bagus..sangat memotivasi saya untuk mendesain rumah baru saya nanti.
Saya tertarik dengan pemakaian material fabrikasi. Tapi saya bingung, kemana saya harus memesan material tersebut ? Terimakasih atas infonya.